Bapalas dan Batasmiyah

oleh

Bapalas dan batasmiyah? Apa itu? Mari ikut saya menyelami salah satu harta budaya di Kalimantan Tengah, yaitu tradisi pemberian nama anak, bapalas dan batasmiyah.

Saya langsung meluncur ke kediaman Ibu Hj. Diang di Gang Rahimah, Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, begitu mendengar acara ini akan dilaksanakan. Perangkat bapalas dan batasmiyah sudah disiapkan di ruang belakang, berikut para tamu yang telah hadir saat saya tiba di rumah beliau. Tempat yang juga digelar Maulid Nabi Muhammad SAW. itu dihiasi bunga-bunga.

Tradisi bapalas dan batasmiyah sejatinya merupakan tradisi yang berbeda namun seringkali dilaksanakan satu paket. Tradisi bapalas merupakan tradisi berterima kasih kepada bidan yang telah membantu proses kelahiran sang bayi. Lain dengan batasmiyah, tradisi ini ialah pemberian nama bayi dengan pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an.

Pada tempat acara, saya menemukan beberapa perangkat seperti peduduk, ayunan, dan perangkat tampung tawar. Rupa-rupanya, peduduk ini merupakan hadiah untuk sang bidan. Tuangkan beras kurang lebih 1 kg, letakkan kelapa tua di atasnya, jadilah perangkat peduduk. Sabut kelapa tua haruslah dikupas terlebih dahulu dengan menyisakan bagian atasnya. Pada sabut bagian atas tersebut, ditusukkan jarum yang telah dipasangi benang. Di sekeliling kelapa diletakkan asam jawa, garam, laos, kunyit, dan bawang bersaudara (bawang merah dan bawang putih) secukupnya.  Pasangan peduduk ialah sajian ketan yang diletakkan satu butir telur di tengah permukaannya.

Bukan ayunan sembarang yang digunakan pada tradisi ini. Ayunan merupakan kain kuning yang dilapisi kain lainnya, kemudian digantung. Ayunan dipasangi hiasan yang terbuat dari daun kelapa atau daun rumbia. Hiasan tersebut terdiri dari berbagai macam bentuk seperti keris, payung, bola, belalang, ular, atau anyaman lainnya. Hiasan lainnya ialah bunga dan buah-buahan. Rangkaian bunga yang terdiri dari cempaka, kaca piring, kenanga, pandan, dan lain-lain ini dijalin dengan daun kelapa. Buah-buahan bisa berupa kelengkeng dan rambutan. Hiasan bunga dan buah-buahan disesuaikan dengan kemampuan tuan rumah. Namun, yang seharusnya ada ialah pisang.

 

Hiasan ayunan terdiri dari rangkaian janur, bunga, dan buah-buahan.

Hiasan ayunan terdiri dari rangkaian janur, bunga, dan buah-buahan.

Sebelum acara bapalas dimulai, bayi terlebih dahulu dimandikan dengan air bunga. Pada acara yang digelar di rumah Ibu Hj. Diang ini, bayi dimandikan pada sore hari. Hal ini berkaitan dengan acara yang akan digelar malam hari. Jika acara digelar siang hari, bayi dapat dimandikan pagi harinya.

Doa-doapun mulai dibacakan, berikut sholawat. Pada waktu yang telah ditentukan, bayi yang direbahkan pada bantal, digendong sang ayah di tengah para tamu lelaki. Ayat Suci Al-Qur’an pun dibacakan, berikut pemberian nama.

Saya harus ikut berdiri ketika para undangan berdiri untuk mengucapkan sholawat sembari bayi mungil dalam gendongan ayahnya dibawa kepada para tamu satu per satu. Inilah saatnya tradisi tampung tawar, yaitu masing-masing tamu membubuhkan minyak boreh ke kepala bayi dan menggunting sedikit rambutnya. Gunting ditempatkan di dalam kelapa kuning tanpa membuang airnya. Minyak boreh yang digunakan dicampur dengan air dan diletakkan beserta daun pisang yang digunakan untuk menabur minyak di kepala bayi. Sholawat diakhiri setelah bayi sudah dimampirkan ke semua tamu.

Peralatan untuk prosesi tampung tawar.

Peralatan untuk prosesi tampung tawar.

Setelah proses tampung tawar, ayunan kemudian dirubungi. Buah-buahan yang menggantung pun menjadi rebutan. Buah-buahan tersebut dipercaya membawa berkah atau sebagai penerang hati jika dimakan.

Sesi selanjutnya ialah mengayun bayi oleh sang ibu sembari para tamu kembali memanjatkan doa. Menurut Ibu Galuh, salah satu kerabat pada acara tersebut, ayunan baru boleh dilepas tiga hari setelah acara dilaksanakan.

Proses meayun anak oleh Sang Ibu.

Proses meayun anak oleh Sang Ibu.

Acara ditutup dengan hidangan-hidangan. Hem.. Inilah saat menyenangkan bagi saya, menikmati hidangan khas bapalas, yaitu kue cucur, apem, ketan, dan inti (kelapa parut yang dicampur gula merah).

Lalu bagaimana jika kelahiran dibantu pihak rumah sakit?

“Peduduk diberikan ke kerabat yang dituakan.” Jawab Galuh yang berperan membantu pekerjaan dapur.

Tradisi bapalas dan batasmiyah merupakan tradisi Suku Banjar (Kalimantan Selatan) yang juga banyak tinggal di Kota Sampit, Kalimantan Tengah. Tradisi ini dilaksanakan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. atas kelahiran sang bayi dan mengharapkan keberuntungan selalu menyertainya.