7 Hal yang Membuat Nyaman Berwisata di Patung Jelawat

oleh

Jelawat 2

Warga Sampit khususnya anak muda pasti sudah tahu ikon Jelawat yang berada tepat di tepi Sungai Mentaya. Ruang publik yang diresmikan pada 21 Februari 2015 tersebut jadi tempat bersantai bagi pasangan, keluarga, maupun anak-anak. Pengunjung pun bisa betah berlama-lama di zona terbuka ini.

Santai Terbuai

Apa sih yang bisa wisatawan lakukan di Patung Jelawat? Meregangkan pikiran sambil melihat pemandangan dan atmosfir sekitar.

Sungai Mentaya menyuguhkan budaya lokal Sampit dengan alat transportasi air yang berlalu lalang. Dari Pulau Seberang, terlihat gerbang “Selamat Datang di Sampit” serta permukiman tepi sungai. Lansekap zona hijau (pepohonan) menandakan pulau tersebut masih menyimpan kekayaan alam.

Aktivitas Transportasi Air yang Terlihat dari Area Patung Jelawat.

Aktivitas Transportasi Air yang Terlihat dari Area Patung Jelawat.

Angin menerpa saat Anda berada di ikon kota ini. Atmosfir tradisional pun merebak dengan suara perahu yang menambah sensai tersendiri. Ada pula gemericik air dari mulut Jelawat ‘raksasa’.

Banyak tempat duduk yang tersedia. Mau menghadap sungai, menyamping, atau membelakangi, tinggal pilih saja. Mau lengang atau diteduhi pohon juga bisa.

Jelawat 1Jelawat 3

Fasilitas Tempat Duduk di Area Patung Jelawat.

Fasilitas Tempat Duduk di Area Patung Jelawat.

Indah dan Bersih

Saat mengunjungi lokasi, penulis mengapresiasi upaya pemerintah dan partisipasi masyarakat yang turut menjaga kebersihan ruang publik ini. Kawasan Patung Jelawat terlihat bersih dan rapi. Tanaman-tanaman pun tidak ada yang tampak rusak.

Selain menyediakan tempat sampah di berbagai sudut, pemerintah juga memasang papan himbauan dan larangan. Petugas jaga pun stand by di objek wisata ini. Fasilitas toilet ada di sayap kanan.

Seorang anak membuang bungkus minuman ke dalam bak sampah di Area Patung Jelawat.

Seorang anak membuang bungkus minuman ke dalam bak sampah di Area Patung Jelawat.

Sayap kanan Area Patung Jelawat.

Sayap kanan Area Patung Jelawat.

Sayangnya, beberapa coretan tampak di tembok sayap kiri bawah. Kesadaran pengunjung khususnya kaum muda diperlukan untuk menjaga fasilitas bersama tersebut. Meskipun berada di area minim pengawasan, pengunjung seharusnya memiliki etika berwisata.

Beberapa coretan akibat ulah pihak tak bertanggungjawab terlihat di sayap kiri Area Patung Jelawat.

Beberapa coretan akibat ulah pihak tak bertanggungjawab terlihat di sayap kiri Area Patung Jelawat.

Ramah Difabel

Pengguna kursi roda tidak perlu khawatir jika ingin menyambangi tempat ini. Jalur sirkulasi dibuat inklusif baik di pintu masuk maupun ke titik tugu.

Akses kursi roda di pintu masuk Area Patung Jelawat.

Akses kursi roda di pintu masuk Area Patung Jelawat.

Arena Bermain Anak-Anak

Di bagian kanan, beberapa pedagang membuka lapak sewa sepatu roda dan scooter. Sektor pendukung ini mendukung aktivitas bermain anak-anak maupun remaja. Permukaan medan yang cenderung rata cocok jadi tempat meluncur.

Anak-anak bermain sepatu roda di sayap kanan Area Patung Jelawat.

Anak-anak bermain sepatu roda di sayap kanan Area Patung Jelawat.

Penyewaan scooter di sayap kanan Area Patung Jelawat.

Penyewaan scooter di sayap kanan Area Patung Jelawat.

Pendidikan Budaya

Kawasan Patung Jelawat dapat jadi sarana pendidikan budaya. Misalnya, acara peresmian yang menampilkan tari khas Dayak. Penulis berharap, pagelaran kultural lainnya segera menyusul baik skala kecil (komunitas atau sanggar) maupun skala besar (dilaksanakan oleh pemerintah).

Penampilan tari tradisional Dayak saat peresmian Patung Jelawat.

Penampilan tari tradisional Dayak saat peresmian Patung Jelawat.

Warisan leluhur juga disampaikan lewat ruang terbuka ini. Hal itu dapat dilihat dari ornamen, replika guci, tombak, talawang, dan lain-lain yang khas Dayak. Wisatawan juga diajak mengenal kekayaan alam Kotawarigin Timur lewat replika Anggrek Tewu.

Replika Anggrek Tewu di Area Patung Jelawat.

Replika Anggrek Tewu di Area Patung Jelawat.

Zona Kaki Lima

Pedagang Kaki Lima (PKL) memang tidak boleh berjualan di dalam area Patung Jelawat. Namun, pengunjung tidak perlu khawatir. Di sekitar kawasan tersebut, ada banyak PKL yang menyediakan minuman, pentol, gorengan, fasilitas bermain anak, dan sebagainya.

Zona Oleh-Oleh

Anda bisa meraup buah tangan tidak jauh dari Patung Jelawat. Cukup berjalan kaki sekitar satu menit, ke arah Jalan Jend. A. Yani, Anda akan menemukan toko-toko souvenir. Masuk ke Jalan Pasar Inpres, wisatawan bisa merambah kios lainnya.

Kawasan oleh-oleh khas Dayak di Sampit.

Kawasan oleh-oleh khas Dayak di Sampit.

Kawasan ini merupakan pusat oleh-oleh khas Dayak dimana Anda bisa menemukan senjata, pakaian, perhiasan, alat rumah tangga, obat, makanan tradisional, hingga batu akik. Barangnya pun juga berasal dari Kalimantan Selatan, Timur, hingga Barat.

Salah satu kios di Jalan Pasar Inpres.

Salah satu kios di Jalan Pasar Inpres.

Buah tangan ikon Jelawat dapat Anda temukan di Istana Jelawat, Jalan Ais Nasution. Dari Jalan Jend. A. Yani, pusat patung dan kerupuk Jelawat tersebut berada di samping kantor BCA Cab. Sampit.

Jika ingin memasak ikan Jelawat, Anda bisa memperolehnya di pasar ikan Pusat Perbelanjaan Mentaya. Telusuri saja Jalan Iskandar ke arah selatan dengan kendaraan atau berjalan kaki tidak sampai 10 menit.

Coming soon: Makna Simbol dan Filosofi Khas di Patung Jelawat