Apa Makna Guci di Patung Jelawat?

oleh

Bagi para pengunjung Patung Jelawat, sudahkah tahu apa makna ornamen dan replika khas di dalamnya? Pemahaman akan simbol tempat berpengaruh pada ikatan emosi kita terhadap objek wisata lho. Pada kesempatan ini, penulis mengulas tentang guci di ruang publik tersebut.

Replika guci yang berpadu dengan tombak di Area Patung Jelawat.

Replika guci yang berpadu dengan tombak di Area Patung Jelawat.

Berasal dari Langit Ketujuh

Tjilik Riwut (1993), dalam bukunya “Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan” (disunting oleh Nila Wirut), mengungkapkan, dalam kepercayaan Suku Dayak, balanga berasal dari langit ketujuh.

Balanga dibuat langsung oleh Ranying Hatalla (Tuhan Yang Maha Kuasa), dibantu oleh Lalang Rangkang Haramaung Ampit Putung Jambangan Nyahu. Benda yang juga disebut tajau ini diturunkan ke Bumi setelah manusia. Balanga pun diterima oleh Ratu Campa.

Balanga dan Ratu Campa

Dalam “Maneser Panatau Tatu Hiang” yang ditulis oleh Tjilik Riwut (1965), dikisahkan bagaimana balanga usai diterima oleh Ratu Campa. Begitu turun dari langit, balanga-balanga disimpan oleh Ratu Campa dalam gua besar. Hal ini dilakukan saat halilintar menggelegar. Gua penyimpanan balanga dan pusaka lainnya kemudian dijaga ketat.

Ratu Campa lalu menikahi Putir Unak Manjang (puteri Majapahit) dan dikaruniai seorang putera bernama Raden Tunjung. Lama berselang, Ratu Campa hendak kembali ke langit. Ia pun memberitahu anaknya tempat benda-benda berharga tersimpan. Namun, Raden Tunjung tidak peduli.

Suatu hari, halilintar kembali menyambar. Balanga-balanga di dalam gua tercerai berai. Sebagian tenggelam di laut. Sebagian menjelma jadi kijang. Gong berubah jadi kura-kura dan senjata menjadi ular.

Tjilik Riwut menuliskan, barang-barang itu ditiru bangsa Cina dan dibawa ke negerinya.

Salah satu guci Dayak di Museum Balanga, Palangkaaya.

Salah satu guci Dayak di Museum Balanga, Palangkaaya.

Simbol Naga dan Interaksi Cina

Melalui “Pakat Dayak”, 1996, Prof. KMA M. Usop mengungkapkan hubungan dagang Borneo dengan Bangsa Cina meningkat setelah 500 M. Menurut Damianus Siyok & Tiwi Etika dalam “Mutiara Isen Mulang” (2014), Poli atau poni (saat ini Brunei) menjadi koloni kekaisaran Cina sejak Dinasti Liang.

Disebutkan, seorang Jenderal pasukan Mongol, Kwe Sin Po, menikahi gadis di Lewu Tumbang Pajangei. Ikatan ini melahirkan pahlawan Dayak Ngaju yang bernama Tambun dan Bungai. Istilah Tambun (Dayak Ngaju) yang berarti naga dekat dengan terminologi Liong di Cina yang juga berarti naga (Siyok & Etika, 2014).

Simbol naga pada replika tempayan di Patung Jelawat melambangkan keperkasaan. Di Hulu Sekadau, naga menjadi gelar orang yang dianggap memiliki kelebihan.

Jadi Materi Adat

Guci banyak digunakan dalam prosesi adat Suku Dayak dari kelahiran hingga kematian. Dulu, Balanga bahkan menjadi seserahan pihak lelaki yang ingin menikahi perempuan Dayak. Kini, barang tersebut sulit ditemukan sehingga permintaan pada pihak lelaki bisa berubah.

Ada 31 jenis balanga yang disebut dalam “Maneser Panatau Tatu Hiang”. Penggunaannya pun berbeda-beda. Jikalau ingin melihat wujud aslinya, benda pusaka ini ada di Museum Balaga, Palangkaraya.

Menandakan Status Sosial

Kepemilikan guci jadi tanda kebangsawanan Suku Dayak. Orang yang memilikinya akan disegani masyarakat sekitar. Balanga menjadi tempat penyimpanan benda pusaka dan barang berharga lainnya.

Tempat Tinggal Roh

Balanga merupakan tempat tinggal bagi roh yang berasal dari langit keenam. Jikalau benda ini pecah, ada ritual khusus yang dilakukan agar roh tersebut tidak marah. Telinga balanga juga kerap diberi sesajen. (Tjilik Riwut, 1965).

Referensi:

Riwut, Tjilik. 1965. Maneser Panatau Tatu Hiang. Disunting oleh Nila Riwut, 2003. Pusaka Lima: Palangkaraya. https://drive.google.com/file/d/0By062jzEw0LeY3RBWEEtLWIwR1E/edit

Riwut, Tjilik. 1993. Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan. Disunting oleh Nila Riwut, 2007. NR Publishing: Yogyakarta.

Usop, KMA M. 1996. Pakat Dayak: Sejarah Integrasi dan Jatidiri Masyarakat Dayak Daerah Kalimantan Tengah. Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Batang Garing: Palangkaraya.