5 ESENSI LONJO DI PATUNG JELAWAT

oleh

Patung Jelawat saat ini jadi objek wisata favorit di Sampit. Bagaimana tidak, selain cocok untuk bersantai, kawasan tersebut juga bernilai budaya. Pengunjung bisa menemukan replika tombak yang menancap pada guci. Apa esensinya?

Senjata Khas

Tombak atau lonjo (baca: lunju) merupakan salah satu senjata tradisional suku Dayak. Peralatan khas ini dimiliki oleh hampir seluruh kepala keluarga suku tersebut (Tjilik Riwut, 1993). Batang tombak berbentuk tabung dimana lubangnya merupakan jalan bagi peluru sipet, yaitu damek. Sebagian, tidak dilengkapi dengan lubang ini.

Sampai sekarang, masih ada yang menyimpan lonjo di dalam rumahnya. Tindakan tersebut bertujuan untuk melindungi keluarga.

Sandi Perang

Tombak juga merupakan media totok bakaka (sandi) perang atau bahaya dalam masyarakat Dayak (nilariwut.com). Pernyataan perang ditandai dengan lonjo yang diikat rotan berwarna merah.

Sandi Bantuan

Dilansir dari akun Forum Pemuda Adat Dayak Kalimantan Tengah, Tombak Bunu ialah kode memohon bantuan. Tanda kapur pada mata lonjo mengisyaratkan ancaman bahaya besar.

Perangkat Sehari-hari

Alat ini tidak juga identik dengan perang. Sehari-hari, tombak digunakan untuk berburu. Sebagai sipet, daya tembak peluru dari lubang lonjo bisa mencapai 200 meter.

Namun, jangan sembarangan dengan senjata tersebut. Sipet pantang diinjak apalagi dipotong dengan parang (Kalstar, 2011).

Tangguh dan Bersatu

Pada ujung replika lonjo di Patung Jelawat, terdapat bendera merah putih. Ini mengandung pesan yang dalam untuk generasi Kota Sampit.

Menurut saya, tombak ialah alat perang yang merefleksikan sikap berani, pantang mundur dalam mengukir masa depan. Lonjo seolah meyakinkan bahwa generasi Kota Sampit sejatinya bisa mandiri dan tangguh untuk menghadapi persaingan global. Bukankah kita punya kekayaan alam dan warisan budaya sebagai alat?

Lonjo serta merah putih menyiratkan makna berharga. Sebuah senjata tidak digunakan untuk memecah-belah bangsa ini. Malah, tombak merupakan alat pemersatu, sama-sama berjuang dengan putera-puteri Indonesia lainnya. Mereka dengan senjatanya, kita dengan senjata kita, seperti para pahlawan dulu.

Senjata di sini tidak hanya bermakna sebenarnya, tetapi juga kemampuan (skill) dan sumber daya yang kita miliki.