6 Hal Menyebalkan di Kota Sampit Saat Berkendara

oleh

Well, Kota Sampit kini makin menarik. Peluang bisnis daerah tersebut mengundang banyak pendatang. Beberapa juga hijrah karena tugas kerja. Perkebunan sawit membuat ibukota Kotawaringin Timur ini semakin ramai. Ada pula sektor pariwisata yang membuat turis sesekali berkunjung atau sekedar transit bakal ke Tanjung Puting.

Bagi Anda yang akan ke Sampit, siap-siap kaget, kesal, sebal, mencak-mencak saat berkendara di Kota Sampit. apalagi yang pakai mobil. Perilaku berlalu-lintas wilayah ini memang aduhai melatih kesabaran.

Belok Kiri Tanpa Reting

Ada budaya yang cukup keren bagi anak muda Kota Sampit, yaitu: belok kiri tanpa lampu sein (reting). Banyak kaum tua yang juga melakukan ini. Entahlah, perilaku seperti itu dipandang sudah biasa. Sementara, ada rasa gengsi bagi remaja Sampit untuk belok kiri dengan cara yang benar.

Parahnya lagi, ini tidak hanya dilakukan pengendara motor. Anda juga akan dibuat sebal oleh sopir mobil yang tidak memikirkan pengendara lainnya saat belok kiri. Mereka juga tega tidak menghidupkan reting.

Lampu Hazard

Saat posisi terjepit, hati-hati jika melihat lampu sein kendaraan lainnya. Bisa jadi, dia bukan belok pada sisi tersebut tapi malah jalan lurus. Ini karena banyak masyarakat yang masih salah paham dengan penggunaan lampu hazard (ketika kedua reting sama-sama hidup).

Jalan Bergandengan

Dulu, jalan di Kota Sampit cenderung sepi. Mungkin ini yang jadi penyebab kendaraan ‘gandeng’ sudah biasa. Jalan Anda bisa saja terhalang oleh dua motor yang pengendaranya sedang mengobrol. Ini kerap terjadi di berbagai jalan. Perilaku tersebut bakal lebih banyak lagi di Jalan A. Yani dan H.M. Arsyad, saat sabtu sore atau malam minggu.

Cukup bunyikan klakson, mereka akan memberi jalan. Tapi awas, kalau jalur sebelahnya sedang sepi, dua orang tadi bisa seolah tak mendengar.

Belok Mendadak

Di Kota Sampit, jangan terlalu menganggap semua orang akan menghormati sesama pengendara. Buktinya, banyak yang jalan lurus nan kencang tiba-tiba belok. Kurang siaga, bisa celaka.

Memotong Jalan

Seorang kolega pernah berkeluh-kesah kepada saya. Leader pekerjaan yang dia bawa terus mengomel di mobil karena tingkah para pemotong jalan. Pelaku lalu-lintas di Kota Sampit seolah tidak sabaran. Tanpa peduli kepala mobil yang sudah belok duluan, masih saja memotong jalan. Jarang ada yang mau berhenti sebentar untuk menyadari hak orang lain terhadap fasilitas umum.

Bagi sopir mobil, sebaiknya memutuskan siaga diri sendiri daripada mengharap orang lain untuk menghargai lalu lintas Anda. Tetap hati-hati karena bakal ada saja yang menyelip paksa di sisi kiri atau kanan.

Apa-apa yang saya tuliskan tadi berdasarkan pengalaman dan yang umum terjadi di Kota Sampit. Tentu masih ada masyarakatnya yang mau mentaati peraturan lalu lintas serta menghargai pengguna jalan lainnya.

Sebagai warga Sampit, saya pun pernah melakukan berbagai kesalahan tersebut. Seiring waktu, mari sama-sama belajar menerapkan etika berkendara.