Behas Bahenda dan Tradisi Cuci Kaki Menyambut Haji di Sampit

oleh

Tanggal 18 Oktober kemarin, jamaah Haji tiba di Sampit pada malam hari. Kabut memang menghalangi kedatangan di bandara namun tidak menghambat jalannya tradisi.

Ada tata cara unik menyambut Haji di Kota Sampit. Adat ini biasanya dilakukan warga keturunan Suku Banjar. Beberapa muslim Mentaya lainnya juga melakukan sebagian prosesi berikut.

Rebutan Berkah Pertama

Saat menjemput Haji di bandara atau meeting point lainnya, keluarga inti turut serta. Mereka akan berebut dicium, peluk, dan disalami Haji.

Siapa yang pertama kali kontak dengan Haji, dipercaya memperoleh rahmat paling afdol. Berkah yang didapat orang kedua akan kurang dari orang pertama.

Gerbang Kubah Selamat Datang

Beberapa jam sebelum kedatangan, seluruh keluarga berkumpul di rumah Si Haji. Jauh-jauh hari, kerabat yang diamanatkan memesan gerbang Selamat Datang. Pintu ini biasanya terbuat dari triplek dengan bentuk kubah di atasnya. Gerbang tersebut dipasang di depan pagar rumah.

Gerbang haji

Gerbang Kubah Selamat Datang untuk Jamaah Haji.

Kembang Bakarang Digantung

Betangan kain putih digantung sepanjang jalur Haji akan berjalan memasuki rumah. Saat tiba, jamaah ini juga menapak kain putih panjang di bawah.

Kembang bakarang disuir untuk menghias pinggiran kain putih bagian atas. Jalinan bunga juga digantung di pelaminan Haji.

Gantungan Kembang Bakarang untuk Menyambut Haji.

Gantungan Kembang Bakarang untuk Menyambut Haji.

Kembang Payung

Pihak keluarga akan menyiapkan kembang payung yang mengiringi jalan masuknya Si Haji ke dalam rumah. Begitu turun dari mobil, mempelai Haji dipayungi dengan rangkaian bunga ini.

Tabur Beras Kuning

Sebelum masuk rumah, seseorang akan melempar beras kuning bercampur uang recehan sambil meneriakkan salawat Nabi kepada Si Haji. Beras ini terbuat dari beras biasa yang diberi pewarna kunyit.

Uang receh yang disebut papikat akan diperebutkan oleh sanak famili. Masyarakat setempat percaya, menyimpan uang logam tersebut bisa membawa keberuntungan.

Adapun beras kuning atau behas bahenda berasal dari tradisi Dayak Ngaju dalam menyambut tamu. Dalam buku Maneser Panatau Tatu Hiang disebutkan, pada upacara pernikahan, tabur beras kuning dimaksudkan agar Ranying Hatlla (Tuhan) turut menyaksika upacara yang sedang berlangsung. Behas bahenda juga dipercaya untuk memanggil kekuatan dari roh leluhur. Bagi masyarakat Dayak yang beragama Islam, ada doa agar kehidupan yang ditaburi beras kuning bisa bercahaya.

Berebut Cuci Kaki

Ini dia yang ditunggu-tunggu. Para kerabat akan berebut memasukkan kaki ke dalam bak air bersama kaki Si Haji. Air tersebut diberi repihan bunga-bunga seperti mawar, cempaka, dan kenanga. Masyarakat percaya, dengan mencuci kaki bersama Si Haji, mereka nantinya juga bisa pergi ke Tanah Suci.

Pelaminan Haji

Pak Haji dan atau Bu Haji memasuki rumah lalu duduk di sebuah pelamninan. Jangan bayangkan pelaminan berbunga-bunga dan kursi mewah seperti resepsi pengantin.

Tempat duduk mempelai Haji hanya berupa kasur kecil yang ditutup karpet. Pada bagian atas, ada kurang lebih tiga lapis bahalai (kain panjang) untuk tiap Haji. Lipatan bisa dibentuk bintang, segi empat, dan lain-lain.

Kembang Payung diletakkan di samping Si Haji. Beberapa kembang bakarang juga menghiasi area tempat duduk tersebut.

Setelah duduk, ada pembacaan doa sebagai rasa syukur dan memohon keselamatan kepada Allah SWT. Di pelaminan inilah Si Haji berbagi cerita perjalanannya ke Tanah Suci. Dari dapur, keluar kurma, air zam-zam, kacang, kismis, dan makanan khas Arab lainnya untuk para tamu.