Larangan Membawa Telur Saat Perjalanan Jauh di Sampit

oleh

Jika Anda orang baru di Sampit dan ingin melakukan perjalanan jauh ke kota atau kabupaten sekitar, sebaiknya hindari membawa makanan pantangan. Percaya atau tidak, banyak kasus yang telah membuktikannya, seperti saudara saya.

Kebetulan, beliau harus lembur di daerah Sei Ijum. Daerah kerja ini mayoritas hutan. Lepas Magrib, tiba-tiba mesin cor mereka mati, kawannya sesak kehabisan nafas seperti hendak mati.

Angin kencang dan banyak suara-suara aneh di sekeliling mereka dari orang berteriak, memanggil, sampai suara babi. Saudara saya sendiri melihat cahaya putih dan biru.

Untung ada yang bertanya, apa makanan yang mereka bawa. Rupanya, anak buah beliau yang mayoritas orang pendatang, membawa bekal telur rebus dan tidak dihabiskan saat makan siang. Telur itupun dibuang bersama minta tolong kepada ‘penunggu’ agar tidak menganggu. Buuuzzzz kawan kesurupan tadi nafasnya kembali, mesin cor hidup, angin pun tenang.

Cerita lain, teman Abah saya pernah menyetir jarak jauh ke arah Kasongan. Mendekati Magrib, di tengah jalan, mobilnya tiba-tiba tidak bisa bergerak. Digas sampai ban berasap tergesek aspal, kendaraan itu tetap seperti ada yang menahan.

Beliau pun dihampiri orang sekitar dan ditanyai membawa apa. Ia menjawab tidak ada apa-apa tapi harus mengecek lagi isi mobilnya. Ternyata eh ternyata, ada dua biji telur rebus. Dilemparlah makanan itu, seketika mobil beliau kembali normal.

Tapi beda dengan beberapa kasus sih. Ada yang pengalaman membawa pantangan saat perjalanan jauh baik siang maupun malam, namun tetap sampai dengan lancar di tempat tujuan. Kalau ditilik dari ini, dapat ‘teguran’ gaib atau tidak tergantung pikiran dan keyakinan individunya juga.

Hummm percaya atau tidak dikembalikan kepada Anda. Adapun makanan yang konon ‘dilarang’ sebagai berikut.

  1. Telur masak
  2. Ketan beserta olahannya (tape, lapat, lamang, dsb)
  3. Nasi goreng
  4. Nasi kuning
  5. Ayam bakar