Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu untuk Sampit yang Harmonis

oleh

Bagi Anda yang bingung dengan konvoi apa kemarin sore, ini jawabannya. Bendera merah, kuning, dan putih serta hiasan daun kelapa mewarnai kendaraan rombongan. Alunan Gong (garantung) mengiringi sepanjang perjalanan. Di barisan depan, dua orang tokoh mengibas-ngibaskan Daun Sawang.

Sabtu, 24 Oktober 2015 itu, adalah puncak acara Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu yang jadi agenda tahunan Kotawaringin Timur (Kotim). Rangkaian upacara telah dilakukan sejak tanggal 22. Agar tetap terjaga dan dikenal masyarakat luas, prosesi Agama Kaharingan tersebut jadi objek wisata Sampit atau Kotim sejak tahun 2003.

Hakekat Mampakanan Sahur

Sahur dalam Agama Kaharingan berarti roh-roh gaib yang memiliki kekuatan magis. Roh tersebut ialah wujud kekuasaan Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa).

Sahawung Bulau merupakan roh yang tinggal di langit, Tamanggung Tungku Watu dan Kameluh Nyaring Bawin Kalasi di Buami, Jata Kalang Labehu di air, dan Naga Galang Petak di bawah air. Sementara itu, penjaga alam semesta adalah Patahu (Patahu Penjaga Lewu).

Mampakanan Sahur digelar sebagai persembahan kepada roh-roh tersebut. Upacara ini sekaligus ungkapan rasa syukur dengan memberi hewan kurban seperti kerbau, sapi, babi, ayam, makanan, dan minuman. Hewan kurban dan makanan minuman tersebut dimasukkan ke dalam Balai atau Pasah Patahu sebagai persemayaman roh-roh gaib.

Hakekat Mamapas Lewu

Upacara ini merupakan refleksi filosofi Huma Betang, yaitu masyarakat yang penuh toleransi dan cinta damai. Betang adalah rumah panjang khas Dayak tempat tinggal puluhan kepala keluarga. Mereka terdiri dari berbagai agama yang hidup dengan saling memahami. Masyarakat Dayak punya prinsip: “Jangankan orang, anjing tersesat pun akan kami tampung.” Ini berarti, sejatinya, Suku Dayak bisa menerima siapa pun.

Hakekat tersebut turut hadir dalam rangkaian acara yang melibatkan etnis Tionghoa. Malam sebelum hari puncak, kesenian Barongsai turut ditampilkan. Representasi Huma Betang juga hadir dengan miniatur rumah adat Dayak, Banjar, Bali, serta Jawa di Taman Miniatur Budaya, tempat pelaksanaan upacara.

Tim Barongsai pada acara Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu. (dok. tim Barongsai)

Tim Barongsai pada acara Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu.
(dok. Perkumpulan Barongsai Kwan Im Thang Sampit)

Adapun Mamapas Lewu digelar untuk membersihkan alam dan kehidupan dari bahaya, bencana, penyakit, konflik, dan lain-lain. Prosesi ini juga bertujuan untuk mengubah yang panas menjadi dingin. Dengan begitu, hidup sesama manusia dan alam jadi harmonis. Semua elemen pun saling menghormati serta menghargai.

Hari Pertama

Sehari sebelum acara puncak, pemuka Agama Kaharingan memimpin Munduk Manawur Tamparan Gawi untuk memanggil roh leluhur. Prosesi ini dilaksanakan agar leluhur memberkati upacara sehingga berjalan lancar.

Bersama para pemuka Agama Kaharingan, para hadirin Manganjan (tarian sakral) mengelilingi Pasah Patahu. Tari Manasai (tari pergaulan) dengan suasana gembira juga dilakukan.

Hari Kedua

Saat subuh, ritual menombak dan menyembelih (seperti pada Upacara Tiwah) hewan kurban dilakukan. Darahnya diambil untuk upacara, sebagian daging untuk keperluan upacara, dan lainnya untuk sajian pada para tamu.

Menjelang siang, persembahan diletakkan dalam Balai. Master of Ceremony mengumumkan pembagian bahalai (kain batik panjang) serta ikat kepala warna kuning dan putih. Siapa yang ingin Manganjan, baiknya pakai kain tersebut.

Memasang bahalai untuk Manganjan.

Memasang bahalai untuk Manganjan.

Musik Manganjan terdengar sakral. Hadirin berkeliling melawan arah jarum jam. Usai beberapa putaran, alunan gong berubah ceria, Manasai dilakukan.

Manganjan mengelilingi Balai.

Manganjan mengelilingi Balai.

Manganjan mengelilingi Balai.

Baram (minuman fermentasi khas Dayak, sejenis tuak) mulai diedarkan dengan gelas kecil. Siapa yang hendak minum dipersilakan. Bagi yang tidak minum bisa menyentuh baram sedikit dengan jari.11

25

Meminum baram secukupnya

Tradisi minum baram hanya saat upacara adat.

Seorang bapak-bapak dan pemuda bercanda sambil menari dan minum baram.

Acara diselingi dengan lagu favorit dan lagu berbahasa Dayak. Ada pula penampilan musik tradisional.

Menyanyi lagu daerah.

Menyanyi lagu daerah.

Puncak Acara

Tamu undangan dan pejabat setempat telah hadir. Acara dibuka dengan tari dari Sanggar Tampung Karuhei, SMK Bhakti Mulya Kotawaringin Timur. Tari tersebut bernama Mamapas Dahiang yang bercerita tentang membersihkan kehidupan dari hal-hal buruk.

Tari Mamapas Dahiang

Tari Mamapas Dahiang

Proses dilanjutkan dengan upacara yang dipimpin oleh rohaniawan Agama Kaharingan, menggunakan Katambung (alat musik) dan sesekali terdengar bunyi gong. Para pejabat kemudian di-tampung tawar  pada kedua bahu serta kepala.

Di dekat prosesi terdapat Balai tertutup kain putih, tempat kepala utama diletakkan. Balai inilah yang akan ditenggelamkan di Sungai Mentaya.

Sebelah kiri: tempat sesaji. Sebelah kanan: Balai yang akan ditenggelamkan.

Sebelah kanan: Balai yang akan ditenggelamkan.

Usai agenda resmi (laporan kegiatan dan sambutan), prosesi dilakukan di Balai bagian bawah. Baram dan sirih beroles kapur diedarkan. Tua muda bisa menginang (mengunyah sirih).

Pemuda-pemudi Dayak menyediakan baram, sirih, dan lain-lain.

Pemuda-pemudi Dayak menyediakan baram, sirih, dan lain-lain.

Siapa yang ingin Manganjan dan Manasai, silakan ambil kain panjang di dekat Balai. Meski kabut semakin tebal, tua, muda, sampai anak-anak tak urung menari tradisional.

319101314

Tua, muda, remaja, sampai anak-anak ikut menari tradisional mengelilingi Balai.

Tua, muda, remaja, sampai anak-anak ikut menari tradisional mengelilingi Balai.

Tua, muda, remaja, sampai anak-anak ikut menari tradisional mengelilingi Balai.

30

6 Pemain musik tradisional mengiringi Manganjan dan Manasai.

Para pejabat daerah duduk di kursi, rohaniawan Agama Kaharingan memercikkan air ritual dengan Daun Sawang dan melakukan tampung tawar sambil membaca doa-doa.

Para rohaniawan Agama Kaharingan.

Para rohaniawan Agama Kaharingan.

2327

Pisor melakukan tampung tawar sambil membaca doa-doa.

Tampung tawar sambil membaca doa-doa.

Para pejabat, tokoh adat, dan para tamu kembali mengelilingi Balai. Kepala tiap orang yang menari ditaburi beras dan di-tampung tawar, sedangkan pipinya dioles tepung putih. Keceriaan pun menyelimuti prosesi ini.

Mamapas Lewu di Tiga Bundaran

Rombongan berangkat baik dengan motor maupun mobil. Para pemuka Agama Kaharingan berada di barisan paling depan. Suara gong mengiringi konvoi. Sesekali, air upacara dipercikkan dengan Daun Sawang, oleh pemuka Agama Kaharingan.

Di Jalan Jend. Sudirman, iring-iringan melewati Bundaran Balanga, terus ke Bundara Polres, memasuki Jalan Jend. A. Yani. Berbelok ke Jalan Yos Sudarso, rombongan ke Jalan Patih Rumbih hingga Jalan Tjilik Riwut melalui Jalan Kapten Mulyono. Lewat Jalan Desmon Ali, barisan Mamapas Lewu ke Jalan Muchran Ali sampai di area Kapal Wisata Sampit, Pusat Perbelanjaan Mentaya.

32

Persiapan Mamapas Lewu Sampit.

Pelepasan rombongan Mamapas Lewu.

Pelepasan rombongan Mamapas Lewu.

3536Iring-iringan Mamapas Lewu.Iring-iringan Mamapas Lewu.

Larung di Sungai Mentaya

Balai diturunkan, rombongan dibagi di kapal utama dan delapan perahu berhiaskan janur serta Daun Sawang. Alunan musik terus terdengar saat kapal mengarungi Sungai Mentaya. Kabut menutup Kecamatan Seranau di Pulau Seberang. Iring-iringan tetap berjalan ke tengah sungai.

3741

Suasana melarung yang diliputi kabut.

Suasana melarung yang diliputi kabut.

“Lololololololoooo ooooiiiiiiii!”  Balai dijatuhkan hingga tenggelam. Air sisa Mamapas Lewu ditumpahkan ke Sungai Mentaya.

Penutup

Upacara Melai Mahaga Palin Gawi serta Manipas Palin Gawi jadi ujung rangkaian Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu. Prosesi tersebut bertujuan untuk melepas pantangan.