Dawen Sawang, Mandi Safar ala Sampit

oleh

Mandi Safar juga ada di berbagai daerah lain di Indonesia, tapi punya ciri khas masing-masing. Di Sampit, Mandi Safar yang dilaksanakan oleh umat Muslim ini menggunakan dawen (daun dalam bahasa Dayak) sawang alias andong bahasa Jawa-nya atau hanjuan versi nasional.

Tahun ini sedikit berbeda karena pemerintah mengadakan Mandi Safar pada tanggal 1 Desember. Bagi sebagian orang, agenda tersebut hanya jadi mandi biasa karena seharusnya dilaksanakan pada 9 Desember, bertepatan dengan hari Rabu pada minggu terakhir bulan Safar. Karena bersamaan dengan Pilkada budaya religius itu dipercepat namun sebagian masyarakat tetap melaksanakannya berdasarkan perhitungan awal.

Photo by Syamsumentaya

Photo by Syamsumentaya, 1 Desember 2015

Tolak Bala dengan Mandi Safar

Mandi Safar di Sungai Mentaya jadi tradisi turun menurun entah sejak kapan. Islam sendiri masuk ke Kalimantan pada abad 14 Masehi (Usop, 1996). Mandi Safar dimasukkan agenda wisata oleh pemerintah sebagai daya tarik Kota Sampit.

Photo by Syamsumentaya

Photo by Syamsumentaya, 1 Desember 2015

Mandi Safar dipercaya dapat menolak bala dengan cara membersihkan diri. Asal usulnya dikaitkan dengan selamatnya kapal Nabi Nuh dari banjir, terbelahnya Laut Merah oleh Nabi Musa dan Harun, dan Nabi Ibrahim yang terhindari dari api. Semua itu terjadi di Bulan Safar (Melayu Online).

Menurut H. Abdurrahman bin H. Abdul Aziz, dari 320 ribu bala yang diturunkan setiap tahun, sebagian besarnya terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Safar (Melayu Online).

Photo by Ahmad Khusaini

Photo by Ahmad Khusaini, 9 Desember 2015

 

Photo by Ahmad Khusaini

Photo by Ahmad Khusaini, 9 Desember 2015

Dawen Sawang, Daun Sakral

Daun sawang merupakan elemen sakral, sarana penolak bala dalam masyarakat Kalimantan Tengah. Penguasa daun sawang ialah Jata Lunjung Sawang yang tinggal di alam atas, negeri Batu Nindan Tarung (Nila Riwut, 2009).

Dawen ini digunakan dalam berbagai upacara Agama Kaharingan, seperti Mamapas Lewu. Di Sampit, pohonnya juga kerap ditemui di pemakaman, dekat nisan.

Daun Sawang yang digunakan dalam Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu.

Daun Sawang yang digunakan dalam Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu.

Dawen Sawang pada Mandi Safar

Daun sawang yang digunakan pada Mandi Safar di Sampit ialah yang berwarna hijau. Daun ini diberi rajah atau doa-doa oleh alim ulama. Ada juga yang memberi conteng (tanda silang menggunakan kapur sirih) pada daun tersebut.

Sebelum turun ke sungai, dawen sawang dikaitkan ke badan. Tujuannya agar terhindar dari bahaya baik yang nyata maupun gaib, termasuk buaya.

Mandi Safar dan Menggapai Cita-Cita

Konon, mandi safar jadi refleksi seseorang dalam menggapai kesuksesan hidup. Perenang ulung akan berusaha menyebrang sungai sejauh mungkin. Jika bisa sampai di Seranau (pulau seberang) maka cita-citanya bakal tercapai.

Photo by Ahmad Khusaini

Photo by Ahmad Khusaini, 9 Desember 2015

Photo by Ahmad Khusaini

Photo by Ahmad Khusaini, 9 Desember 2015

Tentu perlu keahlian renang yang andal untuk melakukannya. Menyebrang dengan perahu motor saja perlu waktu lima sampai sepuluh menit. Beberapa orang sudah cukup senang kalau mampu ke tengah. Jika berhasil, hal ini bisa jadi motivasi hidup.

Kutipan:

Prof. KMA M. Usop, Ma. 1996. Pakat Dayak: Sejarah Integrasi dan Jati Diri Masyarkat Dayak Daerah Kalimantan. Palangkaraya: Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Batang Garing.

http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2537/upacara-adat-mandi-safar-pada-masyarakat-ketapang-kalimantang-barat

http://www.nila-riwut.com/id/budaya/daun-sawang