Panggilan Hormat dalam Bahasa Dayak Sampit

oleh

Oke, ada tiga dimensi bahasa daerah yang umum di Sampit. Kalau Anda di kawasan perkotaan, yang banyak terdengar adalah bahasa Banjar. Namun, kosakatanya ada yang beda dengan di Kalimantan Selatan. Anda juga bisa menemukan bahasa Dayak Ngaju karena ini semacam lingua franca Kalimantan Tengah.

Nah, Sampit sendiri sebenarnya punya sub-bahasa Dayak, yaitu Dayak Sampit. Ini masih dipakai oleh beberapa komunitas di beberapa wilayah seperti Bengkirai (Baamang Hulu), Seranau, Bagenda, Samuda, dan lain-lain. Bahkan di Bengkirai, anak-anak mudanya masih menggunakan bahasa Dayak Sampit. Begitu juga dengan daerah Terantang, bahasa Dayak Sampit akrab di bibir anak kecil.

Suku Dayak Sampit tercatat mendiami aliran Sungai Mentaya di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Kota Besi, dan Cempaga. Tahun 2000, proporsi suku ini mencakup 9,57% dari penduduk Kalimantan Tengah. Dalam penelitian Herry Yogaswara, disebutkan data statistik suku Dayak Sampit tahun 2000 mencakup 52% dari jumlah penduduk di Kecamatan Baamang dan 26% di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Ada perbedaan panggilan hormat dari tiga dimensi bahasa tersebut. Yang saya maksud adalah cara halus dalam menyebut kata ganti orang saat bicara pada orang yang lebih tua atau yang dihormati.

Iya = Inggih

Jika Anda berasal dari Pulau Jawa, bakal menemukan yang mirip ‘nggeh’ di Sampit. Orang yang sopan akan berkata ‘inggih’ yang berarti ‘iya’ kepada orang yang dihormati. Tidak hanya pada bahasa Banjar tapi juga bahasa Dayak Sampit.

Ini tidak mengherankan karena interaksi Kalimantan dengan Jawa sudah terjalin sejak Kerajaan Singasari dan Majapahit baik secara politik maupun hubungan dagang.

Saya = Kula

Dalam bahasa Dayak Sampit, untuk bicara pada kawan sebaya atau orang yang lebih muda, gunakan ‘yaku’ yang artinya ‘aku/saya’. Kalau bicara dengan orang yang lebih tua pakailah ‘kula’. Semacam ‘kulo’ kalau di Jawa ya.

Anda = Dika

Nah, untuk menyebut ‘kamu’ dalam bahasa Dayak Sampit, gunakan ‘dika’ kepada orang yang dituakan. Bahasa sebayanya ialah ‘ikau’.

Beliau = Sida

Pada bahasa Indonesia, kesan penghormatan bagi kata ‘dia’ adalah ‘beliau’. Kata ganti orang ketiga yang halus dalam bahasa Dayak Sampit adalah ‘sida’. Kalau untuk sebaya, pakai ‘iaa’ seperti ‘ia’ tapi lebih panjang menyebutnya.

Panggilan Hormat

*Ditulis atas bimbingan H. Jumri (my beloved father), generasi Ngaju. Kami mengharap partisipasi masyarakat lainnya dalam memberi masukan pada segmen bahasa Dayak Sampit.