Arah Mata Angin dalam Bahasa Dayak Sampit

oleh

Buat yang baru pertama kali membuka laman ini, silakan liat juga Panggilan Hormat dan Ucapan Salam dalam Bahasa Dayak Sampit. Seperti pada segmen lainnya, ada beberapa perbedaan dalam menyebut arah dan mata angin pada bahasa Dayak Sampit dan Dayak Ngaju.

Mata angin

Pada bahasa Dayak Ngaju, ada dua cara menyebut kata ‘di’, yaitu ‘huang’ dan ‘intu’.

‘Huang’ merujuk pada lingkup sebuah tempat. Artinya, objek yang dimaksud berada pada kawasan tempat itu.

‘Intu’ meruju pada tempat yang pasti atau spesifik. Artinya, objek yang dimaksud berada tepat di situ.

Penggunaannya cenderung linier, dimana ‘intu’ digunakan untuk lokasi yang paling spesifik dalam satu kalimat.

Contohnya:

A : Huang kueh humam?
Di mana rumahmu?
B : Huang Samuda, intu pasar.
Di Samuda (nama kota), di pasar.

Pada bahasa Dayak Sampit ‘di’ disebut ‘huang’ dan ‘si’.

Huang’ juga merujuk pada lingkup kawasan dan ‘si’ menunjukkan tempat yang spesifik (seperti ’intu’ dalam bahasa Dayak Ngaju). Namun, penggunaannya tidak linier.

Contohnya:

A : Si kueh humamu?
Di mana rumahmu?
B : Si Sampit, huang Ketapang, si Jalan Delima 5.
Di (Kota) Sampit, di Ketapang (sebutan umum untuk Kecamatan Mentawa Baru Ketapang), di Jalan Delima 5.

‘Di’ Sampit menggunakan ‘si’ karena spesifik merujuk pada Kota Sampit, bukan Kota Sampit dan Sekitarnya.

Preposisi arahUntuk kata arah ‘sebelah’ baik dalam bahasa Dayak Sampit maupun Dayak Ngaju disebut ‘hila’. Namun penggunaannya sedikit berbeda.

Contoh bahasa Dayak Ngaju (sebelah … dari …):

A : Si kueh humam?
Di mana rumahmu?
B : Hila ngawa Samuda, huang Handil Sohor, intu Gang Rambai.
Sebelah selatannya Samuda, di Handil Sohor (nama desa), di Gang Rambai.

 

Contoh bahasa Dayak Sampit (sebelah … dari …):

A : Si kueh humamu?
Di mana rumahmu?
B : Hila laut Samuda, huang Handil Sohor, si Gang Rambai.
Sebelah selatannya Samuda, di Handil Sohor, di Gang Rambai.

 

Contoh bahasa Dayak Ngaju (… sebelah …):

A : Si kueh humam?
Di mana rumahmu?
B : Huang Sampit hila ngawa, intu Jalan A. Santawi.
Di Sampit bagian/sebelah selatan, di Jalan A. Santawi.

 

Contoh bahasa Dayak Sampit (… sebelah …):

A : Si kueh humamu?
Di mana rumahmu?
B : Si Sampit hila laut, si huang Jalan A. Santawi.
Di Sampit bagian/sebelah selatan, di Jalan A. Santawi.

Untuk lebih memahami penggunaan ‘si’, ‘huang’, dan ‘si huang’ dalam bahasa Dayak Sampit, perhatikan dua contoh di bawah ini.

Contoh penggunaan ‘huang’:

A : Si kueh ikau maina epok ndau?
Di mana kamu menaruh dompet tadi?
B : Maka huang mobil te.
Kan di mobil situ.
A : Hila kueh?

Sebelah mana?

B : Hila bentuk.

Sebelah tengah.

A : Bareda hila bentuk tun.

Tidak ada di tengah situ.

B : Si likur jok te ah.

Di belakang jok (kantong) itu lho.

‘Huang’ dalam dialog ini hanya merujuk pada bagian dalam mobil.

Contoh penggunaan ‘si huang’:

A : Si kueh ikau maina epok ndau?
Di mana kamu menaruh dompet tadi?
B : Maka si huang mobil te.
Kan di mobil situ.
A : Bareda.

Tidak ada. (A hanya mencari di dalam mobil)

B : Si hunjun hatap-a te.

Di atas atapnya tuh!

‘Si huang’ dalam dialog ini merujuk pada bagian dalam dan luar (kulit) mobil entah atapnya, dindingnya, dll.

 

*Ditulis atas bimbingan H. Jumri, generasi penutur bahasa Dayak Sampit. Kami terbuka bagi masyarakat yang ingin mendukung pengembangan segmen bahasa Dayak Sampit ini.