Arti Simbol Bundaran Balanga dan Tiang Tugu di Dalamnya

oleh

*Dimohon dengan hormat untuk mencantumkan sumber bagi yang mengutip sebagian atau sepenuhnya.

Pernah ke Bundaran Balanga? Yang selfie di objek wisata Sampit ini pasti sudah banyak. Ada yang berpikir bundaran apa ini? Kenapa bentuknya begitu? Apakah artinya seindah maknanya? Penasaran dengan tiang di dalam bundaran itu?

Dok. kotasampit.com

Dok. kotasampit.com

Nah, kali ini saya mau bagi hasil survey tentang Bundaran Balanga. Tadinya, ditelusuri dalam rangka skripsi. Saya memang belum menemukan pengukir asli tiang tersebut, tapi tulisan ini dibuat berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Haitami (seniman ukir dari Mentaya Seberang) dan Basir Santo (rohaniawan Agama Kaharingan). Saya tambahkan sedikit dari buku referensi dan dokumen lainnya.

Kita bicara Bundaran Balanga dalam bentuk baru dulu ya. Desain bundaran ini berangkat dari lambang Kotawaringin Timur lho.

Lambang Kotawaringin Timur

Lambang Kotawaringin Timur

Arti Balanga

Bentuk melengkung berwarna merah menyerupai balanga, yaitu salah satu jenis guci sakral bagi masyarkat Dayak. Buku “Maneser Panatau Tatu Hiang” menyebutkan balanga dibuat langsung oleh Ranying Hatlla (Tuhan Yang Maha Kuasa), dibantu oleh Lalang Rangkang Haramaung Ampit Putung Jambangan Nyahu, dan diturunkan ke Bumi pada Ratu Campa. Balanga digunakan pada berbagai upacara. Selain itu, kepemilikan balanga menunjukkan status sosial seseorang.

Bentuk balanga pada Km 3,2 Jalan Jend. Sudirman itu, dapat berarti kebersamaan dan gotong royong. Ini karena balanga merupakan tempat menyimpan berbagai jenis benda.

Salah satu guci Dayak di Museum Balanga, Palangkaaya.

Salah satu guci Dayak di Museum Balanga, Palangkaaya.

Talawang, Tombak, dan Sipet

Talawang atau talabang ialah perisai khas Suku Dayak yang pada jaman dahulu merupakan alat pelindung saat berperang. Pada lambang Kotawaringin Timur, talabang bermakna kesanggupan untuk mempertahankan diri dengan gagah berani. Tombak dan sipet, selain sebagai alat perang, juga alat melakukan kegiatan sehari-hari seperti mencari ikan dan berburu.

Semua simbol senjata tersebut dapat jadi semangat yang dibawa dalam konteks kekinian. Ketiganya jadi spirit dalam melawan ketidakadilan, korupsi, kolusi, nepotisme, paham radikal, perusak moral, upaya pemecah belah persatuan, ketidakberdayaan, dan lain-lain.

Perahu Tingang

Perahu mengingatkan ketergantungan kita pada sungai sebagai sumber kehidupan. Sejak raturan tahun lalu, masyarkat Kalimantan menggunakan perahu sebagai alat berkendara.

Perahu rangkong merupakan simbol perjalanan hidup bagi Suku Dayak. Banama Tingang sebutannya, merupakan perahu yang digunakan roh-roh leluhur untuk mengantarkan arwah orang yang meninggal ke Lewu Liau (langit ke tujuh).

Representasi Sungai

Di bawah perahu, sebenarnya ada kolam yang sistem pengairannya belum berfungsi. Sungai merupaknat urat nadi kehidupan bagi masyarkat Kalimantan. Dari situ, asal mula permukiman muncul hingga jadi identitas tempat dan penduduk seperti sebutan uluh Mentaya, uluh Katingan, uluh Belawang, uluh Kapuas, dan lain-lain. Nama sungai juga yang menjadi julukan bagi Sampit sebagai Kota Mentaya.

MAKNA TIANG TUGU DI BUNDARAN BALANGA

Kita masuk pada sesi penting nih, apa sih arti tiang di dalam Bundaran Balanga? Ialah tugu yang berbentuk tiang pantar, tapi ini bukan dari Upacara Tiwah. Padanya, terdapat ukiran indah sarat filosofi.

Membaca tugu tersebut, dapat dimulai dari bawah yang kini tidak terlihat lagi, yaitu bentuk balanga. Selanjutnya, tersambung pada ukiran lainnya.

Tiang tugu di Bundaran Balanga.

Tiang tugu di Bundaran Balanga.

Pesan Kelestarian Alam

Pada tiang tugu, tergambar empat elemen kehidupan yang dibutuhkan umat manusia. Unsur bunga, pohon, dan hewan mengingatkan pada betapa dekatnya hidup kita dengan makhluk lainnya (alam). Manusia bahkan bergantung pada komponen tersebut. Karena itu, kita patut menjaga kelestarian alam.

Pesan Persatuan

Pada bagian bawah ada talawang dan mandau yang menjadi alat perjuangan. Senjata itu bukanlah dipakai untuk mencari musuh tapi mempertahankan diri. Spirit tersebut dapat dibawa pada konteks kekinian. Manusia perlu bergotong-royong agar kekuatan menjadi besar dalam menghadapi pasang-surut kehidupan.

Belum Bahadat dan Penyang Hinje Simpei

Tugu ini merupakan lambang keharmonisan antara sesama manusia dan alam. Masyarakat Dayak mengenal istilah belum bahadat dan penyang hinje simpei yang saling terkait. Belum bahadat ialah hidup saling menghormati dan bertoleransi. Dengan begitu akan tercipta penyang hinje simpei, yaitu hidup rukun dan damai hingga tercipta kesejahteraan, seperti matahari, bulan, dan bintang.

Istilah tersebut tidak hanya berlaku pada sesama manusia tetapi juga dengan alam dan Tuhan. Konflik dengan alam timbul bencana, dengan manusia timbul perang, dengan Yang Maha Kuasa timbul tulah dan hilang berkat (Siyok & Etika, 2014).

Ingat Kepada Tuhan

Pada bagian atas terdapat perempuan yang sedang berobat (badewa), pohon kehidupan (Batang Garing), dan burung tingang. Ini merupakan pesan bahwa manusia hidup tidak hanya di dunia tetapi juga akan berangkat ke akhirat. Dalam semua hal ada kuasa Tuhan. Karenanya, manusia patut berserah diri. Ke mana lah akan pergi? Seluruhnya bakal kembali pada Sang Pencipta.

Begitulah garis besar makna dari Bundaran Balanga. Kalau sudah begini, bagaimana kita tidak cinta pada objek wisata Sampit itu? Setiap orang akan punya interpretasinya masing-masing. Kalau punya tambahan sumber, bagi-bagi ke saya ya. Demikian, terima kasih.

Kutipan:

Siyok, Damianus & Etika, Tiwi. 2014. Penyunting: Anthony Suryanyahu. Mutiara Isen Mulang: Memahami Bumi dan Manusia Palangkaraya. Palangaraya: PT. Sinar Bagawan Khatulistiwa.

Riwut, Tjilik. 2003. Penyunting: Nila Riwut. Maneser Panatau Tatu Hiang: Menyelami Kekayaan Leluhur. Palangkaraya: Pustakalima.

Terima kasih yang istimewa kepada:

  • Kedua orang tuaku
  • Bapak Haitami & Basir Santo
  • Folks of Dayak

Suasana Bundaran Balanga dapat dilihat pada video ini. Created by Maulana Anwar.