Selamat Datang Beras Asli Kotim, Cap Jelawat

oleh

Seorang teman saya mengunggah foto beras asli Kotim di akun Facebook-nya. Uwoo ini adalah  kabar gembira, kabar gembira kulit mang*is kini ada ekstraknya.

Berlebihan tidak ya? Terserah menurut Anda. Keluarnya produk beras dari Kotim, oleh Kotim, dan untuk Kotim membuat saya merasa perlu mengapresiasi seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat yang menyukseskan produk ini.

Lalu saya menelusuri koran online, beras yang diberi label Cap Jelawat itu baru di-launching pada peringatan Hari Sumpah Pemuda kemarin. Produk tersebut telah dipatenkan dan dikemas dengan menarik. Harganya pun lebih murah daripada beras jenis yang sama dari label luar Kotim. Selisihnya 2 ribu rupiah per kilo, kalau beli 6 kilo merk luar kan seharusnya bisa dapat sekilo lagi.

Dokumentasi Maulana Asnawi Imbran

Dokumentasi Maulana Asnawi Imbran

Terbitnya beras asli Kotim tersebut mengingatkan saya pada sekitar tiga atau empat tahun lalu. Waktu itu sedang pulang kampung dan ikut suatu urusan ke Desa Lempuyang. Kalau dari Kota Sampit, jalan ke arah Samuda (selatan) sekitar 1,5 jam menuju Pantai Ujung Pandaran.

Dari jalan arteri, terhampar pahumaan (sawah) yang luas sepanjang mata memandang. Rupanya, lahan itu merupakan bagian dari lumbung padi Kabupaten Kotawaringin Timur. Saya duduk di sebuah warung sambil menyeruput kopi, dan bercakap dengan seorang bapak-bapak.

“Dijual ke mana hasil panen di sini, Pak?”

“Dibeli orang, dibawa ke Kalsel.”

“Wah, tidak dijual sendiri, Pak?”

Pada intinya, minim fasilitas untuk membuat brand beras sendiri. Hasil panen kemudian diolah di luar, dikemas, diberi label sana, lalu dijual lagi di Kotim, sedihnya, dibeli lagi oleh orang Kotim dengan harga yang lebih mahal.

Ingatan saya terbawa lagi ke suatu hari, saat bersama tim dari Pulau Jawa melakukan pekerjaan di Kota Sampit. Saat makan siang di sebuah warung, seorang atasan bertanya apakah yang sedang ia makan adalah sejenis beras Kalimantan, yang memiliki ciri khusus. Humm rupanya orang juga ingin tahu bagaimana bentuk dan rasa beras lokal. Namun, saya tidak bisa memastikan beras asal mana yang sedang beliau makan waktu itu, yang jelas beras Cap Jelawat belum terbit.

Saya juga mau bilang salut karena Kotim mulai memutus mata rantai tengkulak.Sudah berapa lama Kotim ini berdiri? Saya masih ingat kondisi infrastruktur Sampit sebelum pergi merantau. Kemudian, terima kasih juga kepada pemilik foto atas ijin pakainya.