MBOLANG KE AIR TERJUN MERAH SAMPIT

oleh

Well, setelah sekian lama kerja bagai kuda ane pengen refreshing, bingung cari tempat mbolang di Sampit. Rupanya ada destinasi wisata baru yang sebenarnya sudah lama ada sih cuma belum terkenal. Banyak yang penasaran dengan tempat ini sejak diliput Spotlite dari Trans7 lalu viral di media sosial.

Ane sih lebih suka menyebutnya Air Terjun Merah, bukan Air Terjun Merah Darah seperti kata media. Lebih simpel aja gitu. Lagian warna airnya juga bukan merah kayak darah.

Well jadi ane cari info dulu di Google perkara takut nyasar. Iya kalo masih nyasar di dunia yang fana ini, kalo nyasar di dunia gaib bahayyun. Secara, tempat ini berada di kawasan Kalap, sebuah area yang dipercaya sebagai kampung orang gaib.

Rupanya info di internet masih kurang lengkap. Okelah, untuk menambah sensasi mbolang ane ke sana tebak-tebakan aja gitu. Buat yang masih belum tahu Sampit, ikuti aja Jalan H.M. Arsyad lurus teerrruuussss aja.

Perjalanan ke  TKP

Ane rekom mbolang ke sana naik motor sih, biar suasana alaminya lebih terasa. Banyak yang bilang jalan masuknya setapak, ternyata enggak juga, jalannya lueebbar kok.

Seperti yang banyak artikel lain bilang, lama perjalanan kurang lebih 2,5 jam dari Sampit-Ujung Pandaran dengan kecepatan 60-70 km/jam *cetek banget.  Kebetulan bulan ini hujan deras jadi banyak banget jalan yang rusak parah. Jalan mulai nyaman pas di Desa Lempuyang, setelah itu jalan mulus sampe bikin ngantuk ngelewatinya.

Pas di pertigaan Ujung Pandaran bisa berhenti dulu kalo mau beli minuman atau camilan (ingat, jangan buang sampah sembarangan)  atau isi bahan bakar. Setelah dari sini bakal susah cari orang jualan, malah nggak ada karena kiri kanan cuma tanah lapang.

Dari pertigaan Ujung Pandaran belok kanan ke arah Seruyan sekitar 20 kilo. Perjalanan sekitar setengah jam kalo kecepatan ala ane.

Ente bakal melalui jembatan dan pohon-pohon cemara di pinggir jalan. Kalo beruntung ketemu monyet-monyet yang lagi main di jalan.

Jangan khawatir nyasar atau kejauhan, karena sudah dipasang plang penanda jalan masuk ke air terjun. Tinggal perhatikan sisi kanan jalan.

Signage miring, semoga diganti dengan yang lebih kokoh.

 

Hati-Hati Lewat Jalan Masuknya

Well, air terjun ini memang di lahan pasir ya. Hati-hati saat melewati jalan masuknya, pelan-pelan saja kalo kata Kotak. Buat yang bukan pembalap, medannya kental berpasir rawan jatuh, apalagi kalo habis hujan. Yah FYI ya, ane ke sananya pake motor bergigi aja, kalo pake motor off road beda cerita.

Kalo nggak yakin mending temen yang dibonceng suruh turun aja deh jalan kaki hehehe. Nggak jauh kok cuma 1 km, lumayan buat diet.

Pemandangan Lapang Super Tenang

Menyusuri jalan masuk, di kiri kanan hanya lapang sepanjang mata memandang. Suasana hening tenang, membuat rileks pikiran. Siang-siang lumayan juga sih panas terik. Kebetulan ane sampe di sana jam 9an, jadi yah masih ramah lah mataharinya.

Tanah lapang hening

Welcome to The Air Terjun Merah, Busa Melimpah

Setelah mengikuti saja jalan masuknya, kita langsung sampai di Air Terjun Merah ala Sampit. Deru air sudah kedengaran beberapa meter dari situ. Well, memang air terjunnya cuma sekitar 3 meter saja tapi unik karena warnanya.

Warnanya lebih ke cokelat sangat tua lah ya, seperti teh kental, seperti Coca Cola. Warna ini akibat kandungan tannin yang biasa ada di lahan gambut.  Airnya berasal dari sungai yang mengalir di lahan pasir, meliuk-liuk di tengah tanah lapang minim pohon.

Air Terjun Merah Sampit

Air jatuh ke pinggiran sungai yang dindingnya berbatu-batu. Uniknya, busa air terus mengalir sampai beberapa meter, nggak cepat hilang. Ya tapi nggak sampe kayak ‘selimut salju’ di Kali Bekasi. We know lah kalo air terjun biasa busa airnya bakal cepat hilang.

Busanya kayak air bekas cucian.

Kebetulan ane ke sana pas di bulan Desember setelah malamnya hujan deras. Pemandangan air terjunnya pun lebih indah daripada musim panas karena arusnya lebih deras, debit airnya lebih besar, suaranya lebih kencang.

Di bawah air terjun, sungainya nggak begitu dalam. Badan ente masih bisa timbul setengah badan. But, fun lah kalo bisa merasakan jatuhnya air terjun ke tubuh kita.

Spot yang Anak Muda Banget

Suasana begitu tenang, apalagi kalau berdua aja *cieeeeee. Seingat ane si suara burung pun nggak kedengaran.

Kebetulan ane datang bareng anak-anak muda yang main drone dan pada nyebur. Tempat ini memang jadi spot medsos-able buat milenial Sampit ya. Secara, tempat ini mengobati dahaga warga Sampit akan objek wisata baru yang nggak jauh dari pusat kota dan nggak mahal.

Tanaman di sekitar sini kebanyakan semak-semak dan anak-anak pohon cemara. Ada juga beberapa pohon yang lumayan buat gelantungan. Contohnya, anak-anak muda yang bareng ane itu bawa hammock buat mereka pasang di cabang pohon.

Berayun di atas aliran air terjun ini nampaknya asik juga. Sayang ane nggak berani alias nggak punya hammock. Nggak cuma itu man, mereka juga bawa tenda, assseekkkkk.

Uji Keyakinan Melawan Arus Air

Well, nggak seru dong kalo ke sini cuma liat-liat terus pulang. Cobalah main air. At least, celupin kaki ke airnya. Teksturnya lembut, lebih lembut daripada air terjun biasa. Hangat enggak dingin juga enggak.

FYI aja nih ya, di situ belum ada toilet atau tempat ganti baju, dan jauh banget juga dari toilet. Secara, tempat ini jauh dari perkampungan. Jadi kalo mau nyebur pikir sendiri perlu apa aja buat ganti baju, khususnya buat cewek-cewek ya. Kalo cowok sih gampang aja sembunyi di semak.

Buat yang berani silakan coba nyebrang di dekat tebing jatuhnya air. Kalo ane sih cuma berani agak jauhan dari situ tapi arusnya masih cukup terasa.

Menyebrangi sungai ini disarankan dengan pikiran tenang, jangan panik karena dasarnya bukan pasir atau tanah tapi batu yang cukup licin. Kedalamannya nggak sampe selutut sih tapi air yang gelap membuat kita susah melihat ke dasar apalagi pas arus lagi deras-derasnya.

Kalau mau nyebrang, liat dulu ke bawah mana batu yang kelihatan bisa kita injak. Atau, gunakan satu kaki untuk meraba-raba area dasar yang mau diinjak, siapa tahu dalam banget dan bikin kita jatuh.

Tetap tenang diterpa arus. Kebetulan, pas ane nyebrang arusnya semakin deras jadi pas di tengah kerasa volume air makin dalam dan mengalirnya makin kencang. Kalo sudah sampai di tengah, foto deh biar eksis di sosmed.

Dilihat diraba ditrawang dulu sebelum melangkah

Buat cewek-cewek sih saran ane pake celana panjang atau jins soalnya semak-semak di seberang sungai cukup tajam. Kalau berani, ente turun ke air terjun lewat batu-batu di tebing sungai.

Sebelum menyebrang, sebenarnya ada tangga untuk turun ke air terjun. Bukan tangga betulan tapi batu-batu yang lebih mudah kita lewati daripada batu-batu di seberang. Di sekitar situ ada akar-akar pohon buat pegangan karena batu-batunya licin.

Kalau sudah sampai, ada batu-batu lagi yang masih alami. Bebatuannya tertutup lumut yang cukup lebat dan besar-besar. Sayangnya nggak ane foto ya.

Masih Keramat

Ane udah sebutin kalo tempat ini ada di kawasan Kalap yang terkenal misterius, penuh cerita gaib. Jadi ya kalo ke sini jangan macem-macem, cukup bawa niat baik aja. Bagi yang percaya sih jangan bawa makanan pantangan misalnya telur dan ketan (Baca: Larangan Membawa Telur Saat Perjalanan Jauh di Sampit).

Ane pun menemukan kain kuning dan kembang bekarang di tempat ini. Benda yang berkaitan erat dengan alam lain. Tapi nggak tahu juga ya yang ane temukan ini ada hubungannya apa enggak sama kampung gaib kalap.

Tanaman Khas

Area air terjun ini masih alami ya. Masih banyak tanaman khas di sekitarnya seperti Kantung Warik alias Kantung Monyet alias Kantung Semar. Vegetasi tersebut bahkan bisa kita temukan di antara rumput-rumput di sepanjang jalan masuk Air Terjun Merah.  Ada juga pohonnya yang melingkar-lingkar di semak dan pohon lainnya di sekitar air terjun.

Tanaman Kantung Warik pemakan serangga.

Ane juga suka dengan Karamunting Padang di kawasan ini. Karamunting jenis itu jarang ada di perkotaan Sampit.

Karamunting Padang.

Ada juga tanaman berdaun runcing dengan buah merah kecil seperti peluru mainan *aduwww ane lupa tanya namanya apa, lupa foto juga. Ane cicip buah kecil ini alhamdulillah selamat nggak ada racunnya, rasanya manis.

Ilalang Romantis

Satu lagi yang ane suka dari perjalanan ke Air Terjun Merah adalah ilalang yang menggiring di sepanjang jalan, apalagi pas ke arah Seruyan. Di sisi kiri dan kanan jalan, hamparan ilalang putih lembut bergoyang-goyang, berpadu dengan suasana tanah lapang, hening, dan panas terik, berasa manten yang menuju tempat resepsi berdua saja dengan calon suami.

Ilalang di sepanjang jalan ini bikin perjalanan kamu dan doi tambah romantis. Tambah lagi, lalu lintas ke arah Seruyan masih sangat minim. Bisa-bisa dalam waktu sepuluh menit hanya kendaraanmu yang ada di jalanan itu.

Ilalang ilalang lihat langkahku goyang
Ilalang ilalang jadi saksi cerita malam
(Camelia Malik, Machica Mochtar)

Hamparan ilalang ini lumayan panjang ya, sekitar setengah perjalanan dari pertigaan Ujung Pandaran ke jalan masuk air terjun. Sebelum sampai di pertigaan Ujung Pandaran juga ada hamparan ilalang tapi nggak sebagus pas ke arah Seruyan. Ane suka banget lah pokoknya.

Monyet dan Spot Ala Luar Negeri

Sebelum sampai di jalan masuk ke air terjun, ente akan menemukan spot jalan yang menarik, seperti jalan-jalan di luar negeri lah ya. Sisi kiri dan kanan jalan ini dipenuhi cemara berjajar-jajar, berpadu dengan marka jalan dan jembatan, ada juga pepohonan lain yang menambah suasana alami semi perkotaan.

Nah di spot ini juga ente bisa bertemu monyet-monyet yang lagi nyebrang atau santai-santai di pinggir jalan. Pernah, pas ane lewat situ kebetulan ada sekelompok monyet yang cukup banyak, dari jantan, betina, bayi, sampe remaja.

But, hindari memberi makan monyet-monyet ini karena akan mengubah perilaku alami mereka. Lama-lama monyet jadi agresif, berani mengejar manusia, dan merebut bawaan kita (kantong, tas, dll) demi makanan. So, biarkan mereka cari makan di habitat aslinya ya.

And ane juga foto sih di sini *ups. Sebenarnya tidak disarankan sih ya hehehe karena spot foto ane pas di tikungan rawan kecelakaan. Habisnya ini spot ideal kesukaan ane.

Yah, cukup tolah toleh dulu sih kalo mau foto dan pastikan dari jauh tidak ada kendaraan. Kalau mobil dan motor sih masih mending. Masalahnya, kalau truk yang lewat, *jauhkan bala jar orang Sampit, kecepatannya tinggi dan susah ngerem. Kalau mau foto mending dibantu temannya supaya bisa lihat di belakang kita mau ada truk lewat apa enggak.

Kiri kanan cemara, awas dirampok monyet.

Harapan

Well, ane sih nggak berharap akan ada fasilitas yang lengkap di kawasan Air Terjun Merah karena begini saja sudah cukup. Biarlah kealamiannya tetap terjaga.

Bayangin kalau sepanjang jalan masuk itu sudah dipenuhi orang-orang jualan, motor parkir di mana-mana, sampah bertebaran, terlalu banyak orang yang mandi di air terjun, air jadi keruh, tanaman khasnya musnah, aduuhhhh udah nggak asik lagi mbolangnya.

Yah, cukup ditambah fasilitas pengelolaan sampah aja sih karena mulai ada sampah bertebaran di sekitar Air Terjun Merah. Buat temen-temen yang mbolang ke sana plis kantongi sampahnya, bawa pulang dan buang di tempat yang bisa dikelola pemerintah.

Nampaknya asik juga kalau vegetasi khas di sekitar air tejun ditambah dan dikelola dengan baik. Okelah, cukup sekian cerita dari ane, Selamat Liburan Gaes!

Partner mbolang & photo by: Amalia Dewi P.