Kue Lapat Daun Pandan

oleh

Well, selain lapat daun nipah yang jadi kue khas Sampit, ada juga lapat daun pandan. Jangan kira isinya sama persis, beda kok, rasanya juga beda.

Lapat Daun Pandan tanpa Kacang

Kalau lapat daun nipah biasanya pakai kacang merah, lapat daun pandan biasanya polos saja. Isinya ketan yang dimasak dengan santan.

Rasanya sama-sama manis (bukan manis gula pasir ya), agak gurih. Tekturnya lebih kenyal dari lapat daun nipah. Seperti makan kue ketan putih tapi lebih lunak dan lebih berlemak.

Dengan pembungkus alami, rasa daun pandan begitu menyatu ke dalam ketan. Saat dikupas pun permukaan ketan berwarna hijau.

Khas Aroma Pandan

Ini yang menarik. Lapat daun pandan punya aroma khas pembungkusnya. Begitu dikunyah, harum pandan menguar samar-samar di hidung. 

Kalau kita bandingkan dengan saat makan kue yang dibungkus daun pisang, lemper misalnya, atau lapat daun nipah, aroma dan rasa pandan pada kue lapat ini lebih kuat.

Pandan Kecil dan Pandan Besar Berduri

Ada dua jenis lapat pandan, yang kecil dan yang besar. Lapat kecil dibungkus dengan daun pandan yang biasa dipakai ibu-ibu memasak, jenis Pandanus Amaryllifolius (pandan wangi).

Nah kalau lapat besar, yang dipilih memang daun pandan besar, jenis Pandaus Tectorius (barangkali ya, karena rasanya pohon pandan duri nenek saya dulu tidak sebesar Pandanus Tectorius, sering dipakai untuk lapat). Daunnya lebih tebal dan pinggirannya berduri.

Aroma dan rasa pandan lapat besar lebih kuat dibanding lapat kecil. Kue ini umumnya diikat di bagian tengah.

Tapi pandan berduri sekarang susah didapat. Jadi, untuk lapat besar banyak dipakai daun pandan wangi yang cukup tua dan lebar.

Lapat Pandan Masih Eksis

Kuliner khas Sampit tersebut masih eksis sampai sekarang, masih banyak yang jual. Cari saja di rombong kue tradisional atau di pasar. Kue khas Sampit ini juga sering kita jumpai di beberapa pasar malam.