Nostalgia Mandian di Sungai Mentaya

Huuuueee siapa di sini yang kecilnya suka balumba di sungai terus pulangnya dipukul emak hahahaha.

Balumba alias mandian adalah istilah mandi dengan cara berenang di Sungai Mentaya. Balumba sebenarnya lebih kasar karena merujuk pada berenang dengan aksi-aksi membahayakan dan sampai lewat batas waktu.

Ritual Anak-Anak

Adapun acara balumba ini menjadi kesenangan tersendiri bagi anak-anak, khususnya yang tinggal di tepi Sungai Mentaya. Jarang orang dewasa yang mandian di sungai kecuali untuk menjaga anaknya.

Biasanya yang ikut mandian ya anak-anak yang sudah mahir berenang. Tapi awas kadang anak kecil diam-diam belajar berenang di luar pengawasan orang tua.

Pas Air Pasang

Pick hour mandian adalah saat air pasang di sore hari mulai sekitar jam 3 sampai petang. Kalo sudah maghrib dipastikan emak turun tangan.

Terjun dari Atas Kelotok

Kadang ada bagusnya juga aksi memacu adrenalin anak ini ya. Di satu sisi melatih dia untuk mengambil tantangan dan berpetualang. Di sisi lain bahaya juga kalau anaknya belum cukup umur untuk tahu titik terjun mana yang membahayakan.

Anak-anak paling suka terjun dari atas perahu mesin atau kelotok yang notabene tingginya sekitar dua meter lebih dari permukaan air. Makin tinggi makin senang lah anak-anak itu. Satu teman melakukan maka yang lain mengikuti.

Terjun dari Lantai Dua

Kalau bukan kelotok, terjun dari lantai dua rumah orang yang berada di atas sungai. Beberapa rumah penduduk punya balkon yang menghadap sungai. Alternatif lainnya adalah terjun dari atas jamban.

Ban Dalam dan Teng

Dulu, rasanya kurang seru balumba tanpa teng (jerigen minyak) atau ban dalam. Pelampung yang benar-benar pelambung sebenarnya ada, banyak saja yang jual, tapi rasanya kurang pas.

Adapun yang dipakai biasanya ban dalam mobil atau truk. Makin besar makin asik.

Kalau pas pulang, ban dalam ini dikalungkan ke badan dalam keadaan kempes atau berisi. Bisa juga digelindingkan di jalan.

Tahi Larut

Well, dulu masih banyak jamban di atas Sungai Mentaya ya. Sampai sekarang ada beberapa. Kalau sudah melihat yang “larut-larut” anak-anak akan bilang “hiiii” dan menjauh dari situ, atau saling mengingatkan, “awas ada tahi!”.

Awas Kena Mesin Kapal

Dulu, masih banyak kapal (bahasa lokal untuk perahu atau kelotok) milik penduduk yang bersandar di tepi Sungai Mentaya. Sering anak-anak berenang dan bermain di sekitar roda pendayung belakang perahu.

Itu berbahaya karena roda perahu sangat keras. Meskipun permukaannya tumpul, ada bagian yang meruncing juga. Bahaya kalau anak-anak keasikan main dan kepalanya terbentur. Orang dewasa yang mengawasi biasanya akan menegur kalau anak-anak bermain dekat situ.

Belajar Berenang dengan Tali

Bagi yang belum bisa berenang biasanya nonton saja dari atas batang (lantai dari batang-batang kayu) atau beraninya main pinggir.

Dulu, pinggiran Sungai Mentaya masih bersih, masih bisa dipijak, tidak seperti sekarang yang banyak sampah. Bahaya juga kalau kaki kena beling.

Ada triknya belajar berenang yaitu dengan tali yang diikat antara kapal dan batang. Jadi si anak belajar menggerakkan kaki di air sambil memegang tali itu. Sekali-kali talinya dilepas untuk belajar mengambang.

Pulang Baju Basah

Indahnya sore hari saat melihat anak-anak naik ke darat, berjalan ke gang-gang menuju rumah dengan baju basah. Ada juga yang telanjang, ada juga yang pulang sambil diteriaki emaknya dari rumah, disuruh pulang.

Badan Hitam

Anak kecil yang sering balumba badannya menghitam. Antara faktor air sungai dan terik matahari sore.

Kutu Rambut

Selain badan jadi hitam, anak yang suka mandian di sungai pasti kena kutu rambut. Parasit ini dijamin susah hilang apalagi kalau si anak masih suka balumba. Tapi seiring bertambah usia, kutu akan hilang juga karena anak sudah pintar merawat rambut.

Melihat Ikan Saluang

Jaman sekarang masih banyak kok anak-anak yang mandian di sungai. Tapi sedihnya sungai kita bukan lagi sungai yang dulu. Air Sungai Mentaya sejak dulu memang berwarna cokelat tapi dulu, tidak keruh seperti sekarang.

Dulu, kita masih bisa melihat anak ikan saluang berenang di permukaan. Ludahi saja maka ikan saluang akan berkumpul di situ. Kita pun bisa menciduknya dengan gayung mandi dan memasukkannya ke dalam kantong plastik untuk mainan anak-anak.

Tepi Sungai Mentaya sekarang juga bukan yang dulu lagi. Sudah banyak aktivitas pelabuhan. Banyak sampah. Untungnya juga, sudah banyak alternatif rekreasi kolam renang di Kota Sampit.

Baca Juga:

Sungai Mentaya

Bekolotokan : Wisata Air yang Menyenangkan di Sampit

About the author

Freelance writer genre fiksi dan nonfiksi.

Leave a Reply

%d bloggers like this: